2.15.2016

Tercekik Waktu

Malam ini tekanan oksigen entah berapa. Menipis sepertinya. Sulit sekali molekul-molekul oksigen ini berpindah ke dalam paru-paruku. Walaupun dada ini telah mengembang maksimal untuk berusaha menghirup, aku tetap harus membuka mulut untuk berusaha bernafas.

Pengap rasanya. Sulit sekali untuk bernafas. Rasanya seperti tercekik, entah oleh apa. Leherku terus tertahan sesenggukan. Bahkan di puncak gunung pun tidak seperti ini rasanya.

Lalu mataku terasa kering. Entah angin darimana yang bertiup melewati kedua bola mata ini. Rasanya perih, seperti kehilangan cairan yang melubrikasi. Ataukah mungkin sudah terlalu banyak cairannya terbuang? Entahlah.

Aku merasa pusing. Kepalaku seperti tertekan dan ekstrimitas-ekstrimitasku lemas rasanya. Padahal baru saja aku makan malam. Seharusnya tubuhku tidak akan mengalami kekurangan energi pada saat ini. Bahkan untuk berdiri pun, aku tidak bisa.

Rasanya jika sudah seperti ini aku ingin merebahkan diri saja. Bergumal dengan selimut tebal, lalu melupakan dunia sekitar untuk beberapa menit sembari menenangkan perasaanku hingga alam bawah sadarku nanti cukup kuat untuk mengembalikan segala sinyal-sinyal saraf ke seluruh tubuh yang sudah melemah sedari tadi.

Ketika aku maju tanpa ragu, hembusan angin di atmosfer ini terlalu cepat. Tak kuat ragaku melawannya hingga aku terseok-seok melangkah maju, sampai akhirnya aku terpaksa mundur. Langkah awal yang ku kira ke depannya akan baik-baik saja, ternyata tetap ada juga hambatannya.

Terdengar lagi di telingaku tentang simpang siur itu. Entah apa permasalahan utamanya. Angkuh? Waktu? Mungkin angkuh bisa dirubah, tapi waktu tidak bisa menunggu. Semua orang tahu, semua orang mengerti. Termasuk aku.

Mungkin waktu bisa diulur, tapi waktu tidak bisa dimanipulasi. Mungkin waktu sangat berharga sampai waktu tidak bisa dibeli. Mungkin waktu bisa diatur, namun waktu tidak bisa berdusta. Mungkin waktu terus berjalan hingga waktu tak bisa menunggu. Mungkin waktu hanya bisa membisu, hingga waktu tidak bisa menunggu.

Hingga cinta terikat pada waktu dan terpisah oleh waktu.

Duhai waktu, bersediakah kau menunggu?