7.24.2011

Pengorbanan sang Kupu-kupu Malam

Ini cerita dari seorang kaskuser. Mungkin cerita ini emang panjang banget. Tapi ini cerita sukses baget bikin banyak orang mewek. Walaupun di awal kelihatannya cerita ini ga punya nilai sama sekali, tapi setelah baca cerita ini mungkin lu bakal ngerti sesuatu. Sesuatu yang selalu ada di hati lu.

ini versi lain. versi asli di sumber


Malam itu temanku mengajakku ke sebuah tempat yang... bisa disebut haram. Aku menemaninya ke sana dengan maksud cuci mata. Tanpa bermaksud lebih. Hanya menemani kawanku dan mencuci mata.


Begitu sampai di sana begitu banyak wanita penggoda yang mencoba merayuku. Namun seperti tekad awal. Aku kesini, tidak bermaksud apa-apa. Lalu, aku dan temanku sampai di suatu rumah.


"di sini cewenya cantik-cantik."
"Yaudah sana buruan!"


Aku menunggu temanku. Beberapa menit berlalu, seorang wanita datang ke arahku. Aku hanya melempar sebuah senyuman padanya.


"Nih," celetuk wanita itu sambil menyodorkan rokok.
"Duh aku nggak ngerokok. Hehe..."
"Laki kok ngga ngerokok. Lagi ngapain mas? Sama aku aja..." Rayunya.
"Ah enggak. Aku cuma nemenin temen aja ke sini. Emang kamu belum ada pelanggan? Kan kamu cantik."
"Aku lagi ada masalah." Jawabnya sambil menghisap sebatang rokok.
"Masalah apa?" Tanyaku.
"Situ perlu tau?"


Mungkin wanita itu marah karena aku terlalu mencampuri urusannya.


"Oh hehe maaf ya."


Hening. Wanita itu tak menjawab.


"Kamu kayaknya nggak berengsek ya," Wanita itu memecah keheningan sambil membuang rokoknya.
"Hah maksudnya?"
"Kan semua cowok berengsek. Cuma kamu aja yang kesini ga mau seneng-seneng."
"Bisa aja. Tapi nggak semua cowok gitu kok. Masih banyak cowok di luar sana yang baik. Aku cuma takut dosa. Belum lagi kalo kena penyakit apa gitu."


Tersadar, omonganku agak menyinggung.


"Maaf kalo tersinggung ya," sambungku.
"Ngapain minta maaf? Emang bener kok."


Semakin lama kami mengobrol, aku semakin ingin mengenalnya.


"Nama kamu siapa?" Tanyaku sambil berdehem.
"Eva kalo panggilan di sini. Nama asliku  Evaria. Kamu?"
"Aku Rehan. Kalo boleh tau, kamu ada masalah apa? Kok sampe ga ada pelanggan? Cerita aja. Aku ga akan bilang ke siapa-siapa kok."
"Aku lagi males cerita. Yang jelas sekarang aku lagi butuh uang."
"Buat apa?"
"Buat Ibuku. di perutnya kayak ada benjolan gitu. Sebulan yang lalu udah dibawa ke puskesmas. Diagnosanya kayak semacam tumor kecil. di suruh cepet-cepet operasi tapi aku belum punya uang. Lagi ga ada pelanggan juga."


Aku tidak bisa berkata-kata. Tiba-tiba saja wanita ini merubah pikiranku tentang kupu-kupu malam.


"Kenapa kamu ga bilang daritadi? aku bisa bantu tapi uangku masih di rumah." Niatku membantu.
"Capedeh. Gausah ngomong..."
"Hehehe. Emang perlunya berapa?"
"Sekitar dua setengah juta. Aku baru punya satu juta. Dua minggu ini aku kumpulin dikit-dikit."
"Masih kurang satu setengah juta ya? Gini deh, kamu ada nomer hp?"
"Ada kok. Buat apa?"
"Ya besok aku ke sini lagi kasih kurangnya ke kamu."
"Beneran? Tapi gausah ke sini ya. Kita janjian di tempat lain aja."


Malam itu, aku dan dia bertukar nomor handphone. Dia meninggalkanku di tempat itu. Tak lama kemudian, temanku keluar dari rumah tadi sambil membetulkan bajunya. Kami pulang.


Esoknya, aku mencari uangku di rumah. Hanya ada 900.000. Namun aku harus tetap membantu gadis itu. Aku mengambil uang tabunganku untuk mencukupi sisanya. Aku langsung mengirim sms padanya namun dia tidak bisa menemuiku hari ini.


Hari selanjutnya dia mengajakku bertemu di salah satu cafe. Aku melihat wajahnya lagi. Ia cukup cantik untuk seorang wanita malam. Aku mentraktirnya di cafe itu, kemudian aku mengajaknya pergi ke pantai. Aku duduk di sampingnya menikmati udara yang sejuk. Tak lama kemudian, aku memberikan uangku kepadanya.


"Makasih ya..." Rintihnya sambil memeluk tubuhku.


Suara rintihnya... Aku tahu dari suaranya. Ia menahan air mata yang mendesak keluar. Ini pertama kalinya aku menerima pelukan dari seorang wanita malam.


"Iya sama-sama. Aku ikhlas kok bantu ibu kamu. Ga usah kamu ganti ya..." Jawabku.


Saat itu Ia mengungkapkan semuanya. Alasan mengapa dia menjadi seperti ini.


"Dulu sebelum kerja kayak gini aku punya pacar. Sama-sama satu sekolah. Dari sekian cowok yang ngejar, cuma dia yang aku terima."
"Tapi ya gitu deh. Rata-rata laki-laki cuma ngincer sex doang!" Lanjutnya.
"Ya tapi nggak semua cowok kayak gitu kali,"
"Pastinya. Contohnya yang di samping aku." Celetuknya.


Siapa? Pikirku. Setelah tersadar bahwa yang dimaksud adalah diriku sendiri, aku tertawa.


"Eh malah ketawa. Emang bener kok kamu baik banget. Andaikan kamu mau jadi pendamping aku. Aku seneng. Tapi ya ga mungkin lah." Ia tertawa atas harapannya sendiri.
"Kok ga mungkin? Kalo aku mau gimana?" Tanyaku.
"Haha dasar goblok. Ngapain kamu mau jadi pacar cewe kotor kayak aku?" Ragunya sambil menempeleng kepalaku.
"Kamu jangan ngomong begitu. Ga ada kata terlambat kok untuk bersihin hati kamu. Aku suka cewek yang apa adanya kok."


Mulai hari itu, kami merajut kasih. Mungkin banyak orang bilang aku bodoh. Namun, aku punya alasan tersendiri untuk menemaninya di hari-hari terakhir hidupnya.


Esoknya, aku menemani Eva ke RSU untuk operasi ibunya. 4 jam menunggu, aku lega karena Ibunya bisa selamat. Ibunya mengucapkan terimakasih kepadaku.


2 minggu berlalu. Hubungan kami masih baik-baik saja. Namun, hampir setiap malam air mataku menetes. Sebenarnya, ada satu rahasia yang Eva rahasiakan kepadaku. Namun aku sudah mengetahui rahasia tersebut. 3 minggu terakhir, aku yang membiayai hidup Eva dan keluarganya karena Eva berhenti dari pekerjaannya. Aku juga menyuruhnya untuk sering-sering beribadah.


Ketakutanku semakin besar di kala badannya makin kurus, dan cekungan matanya semakin terlihat.


Satu hari setelah aku mengenal Eva. Waktu itu aku ingin memberikan uang padanya, namun Ia tidak bisa bertemu denganku. Malam itu aku kembali datang ke tampat prostitusi kemarin karena penasaran. Eva cukup cantik dan aku bingung kenapa Ia sepi pelanggan. Aku bertanya tentang Eva kepada salah satu temannya di tempat itu. Aku memberinya uang sebesar seratus ribu rupiah.


"Itu Eva kenapa? Cantik-cantik kok sepi pelanggan sih?" Tanyaku.
"Kamu siapanya Eva?"
"Aku cuma teman baiknya kok."
"Oh, ya gitu deh. Dia kena penyakit. Makanya pelanggan pada lari semua soalnya takut ketularan."
"Hah? Maksudnya penyakit apaan?" Sontakku kaget.
"Dia kena penyakit sifilis. Sebenarnya dia bisa aja minum penicilin G dari rumah sakit. Tapi uangnya dia kumpulin buat penyakit Ibunya. Itu aja Ibunya masih nggak bisa bangun."
"Tapi Eva masih bisa sembuh?" Tanyaku.
"Kata dokter di puskesmas sih udah susah. Soalnya virusnya udah menjalar. Waktu itu aku nemenin dia periksa ke puskesmas. Makanya aku tau."
"Oh gitu. Makasih ya atas infonya. Aku mau pulang."
"Gak minum dulu?" Tawar wanita itu.
"Nggak usah, aku mau pulang." Tolakku.


Air mataku hampir menetes di jalan setelah mengetahui semuanya. di situ aku bertekad untuk menjaga Eva sampai ia sembuh. Lama-kelamaan aku menjadi sayang kepada Eva. Tidak seperti lelaki lain yang langsung lari begitu mengetahui ia terkena penyakit. Apakah aku bodoh?


Aku melihat ia makin lemah. Aku membawanya ke rumah sakit. Dokter memvonis Eva terkena sifilis akut karena neurosifilis sudah menyebar ke sel-sel badannya dan kelamaan membuatnya lumpuh. 


Dia meminta maaf kepadaku karena merahasiakan semuanya. Aku mengaku bahwa aku telah mengetahui semuanya dari Desy, temannya. Hampir seminggu di rumah sakit, aku tetap menjaganya. Walaupun saat itu sedang UN, aku tetap menjaganya di rumah sakit. Bahkan aku tidak fokus di UN. Bersyukur aku lulus.


Akhirnya, tanggal 30 April 2010 pukul 16.00 Eva menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tempat ia dirawat.


Seluruh koleganya datang. Eva dimakamkan di kampung halamannya. Aku menanggung semua biaya perjalanan. Namun aku tidak bisa ikut karena sedang sibuk SNMPTN waktu itu. Ibunya tidak bisa tinggal di tempat prostitusi itu lagi. Terakhir aku mendengar bahwa Ibunya berjualan nasi bungkus di kampung.


Aku menghapus seluruh kenangan tentang Eva. Kini, yang tersisa hanyalah kalungnya, fotonya, cincin, dan secarik surat. Eva menitipkan surat itu ke Desy. Aku melihat ada bekas air mata di surat itu.


To : My Lovely .....

Dear,makasih kamu udah mau jadi pendamping aku
selama ini...makasih juga udah mau jadi malaikat
penyelamat untuk ibu aku...
Andaikan kamu tau aku punya penyakit gini,
aku yakin kamu pasti kecewa trus tinggalin
aku,yakin banget  makanya aku ngerahasiain
ini semua...maaf ya?
Dear,Kamu Laki-laki paling baik yang pernah aku temuin
,kamu mau terima aku apa adanya..
Aku perempuan kotor,miskin,keluarga semrawut,
tapi kamu tetep mau deket ma aku 
Dear,andaikan aku udah gak hidup lagi di dunia
ini,kamu jangan sedih ya ? masih banyak perempuan
yang lebih baik dari aku..kamu orang baik,harus
punya pendamping yang baik juga :')
Inget,jangan lagi datang-datang ke tempat kotor
gitu.setebal apapun iman kamu,pasti bisa
runtuh ama yang namanya perempuan.
Dear,walau dunia kita udah beda,aku tetep ada di
hati kamu kan?janji?aku akan slalu disamping
kamu,aku akan jaga kamu.......Maaf andai
slama ini aku&keluarga udah nyusahin kamu :*
Goodbye....... 


Your Lovely Bitch,Eva.





Akhirnya, semua kenangan telah menjadi serpihan. Namun serpihan dari Eva, serpihan pelajaran dan setitik kasih sayang darinya akan menjadi bagian dari perjalanan hidupku yang tidak akan pernah memudar. Kini aku telah memiliki tunangan baru.


Hidup adalah pilihan dan semua kedewasaan kita tergantung dari pilihan yang kita ambil


7.17.2011

Sebuah Surat Dari Seekor Kucing

Salam saudaraku. Maaf apabila tulisanku ini mengganggumu. Namun aku tidak bisa bercerita langsung kepada kalian. Aku hanya bisa menulis di secarik kertas lusuh ini.


Kemarin aku sedang berjalan dan melihat temanku berlindung di sebuah benda besar. Benda itu memiliki 4 roda, dan kelihatannya terbuat dari besi yang sangat berat. Aku tidak tahu nama dari benda itu. Tapi benda itu telah membunuh temanku.


Ketika benda itu mundur, temanku tertindih benda itu.


Benda itu pergi, lalu aku cepat-cepat lari menghampiri temanku. Aku memanggilnya namun Ia hanya terdiam. Aku melihat darah keluar dari kepala dan lehernya. Aku menjilati darah temanku sambil menangis sampai ada seorang manusia yang mengubur temanku dan menyuruhku pergi dari tempat itu. Betapa baiknya manusia itu. Aku tidak akan pernah melupakannya yang telah menolong sahabatku.


Aku kembali berjalan dan melihat tempat sampah di depanku. Kalian menyebutnya tempat sampah. Namun bagiku ini adalah tempat mencari makan. Setidaknya kami tidak perlu membayar untuk mendapatkan beberapa potong ayam basi. Oh, ternyata di tempat makan ini tidak ada makanan. Aku terus berjalan sambil menelusuri setiap tempat sampah yang ada. Aku lapar, namun aku hanya bisa mengais tempat ini. Andai saja sahabatku masih hidup. Ia pasti akan sangat menghiburku.


Akhirnya aku mendapatkan sepotong ayam. Meskipun tinggal tulang, aku sangat bersyukur. Namun tiba-tiba ada jantan lain yang mencakar punggungku dan merebut makananku. Ya, kami memang harus bertengkar untuk mendapatkan makanan dan seekor betina. Aku hanya merelakannya dan mengais tempat makan lainnya.


Aku menemukan ayam lagi, dan yang ini lebih besar! Aku sangat bersyukur dan bahagia. Namun ada seorang manusia yang datang dan menendang kepalaku. Aku langsung lari membawa ayam itu dan menikmatinya di tempat yang aman.


Kepalaku masih terasa sakit sekali karena tendangan manusia tadi. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanyalah seekor kucing yang tidak disukai banyak manusia. Terkadang aku berfikir bahwa menjadi manusia enak sekali. Kalian bisa mencari makanan yang layak dan bergizi. Kalian juga bisa hidup bersama sebagai keluarga.


Aku pulang dengan menenteng sisa ayam di mulutku. Ya, aku sengaja menyisakan ayam tadi untuk anak dan istriku tercinta. Begitu sampai, istriku bilang bahwa anak kami dipisahkan dari kami oleh seorang manusia. Istriku tidak tahu kemana anak-anak kami dibawa. Kami hanya bisa menangis. Layaknya kalian, kami juga ingin melihat anak kami tumbuh besar dan sehat. Namun itu hanya tinggal impian semata.


Terkadang aku merasa iri dengan kucing-kucing yang dipelihara oleh manusia. Mereka mendapatkan kasih sayang yang besar dan makanan yang layak. Namun kucing-kucing itu adalah bule yang bulunya panjang, lebat, dan halus. Ya aku sebagai kucing kampung hanya bisa melihat mereka dari jauh.


Jika aku harus berhenti dan mengais pada setiap tempat sampah, kucing peliharaan hanya tinggal berteriak kelaparan dan majikannya akan memberi makanan. Pernah suatu waktu aku berusaha mencicipi makanan mereka, namun aku ditimpuk dengan batu oleh majikan mereka.


Ketika melihat manusia makan ikan, aku menghampirinya. Aku berharap mereka akan memberikan rasa iba terhadapku. Namun aku ditendang lagi. Rasanya sangat sakit. Aku langsung pergi dan hanya bisa berdoa agar manusia itu segera berubah.


Kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, namun mengapa kalian begitu benci terhadap kami? Ya, tubuh kami penuh luka dan menjijikan. Kami memang harus berjuang demi anak-anak dan istri kami. Memang bukan dengan pergi ke kantor, tapi dengan mencari makanan. Mengapa kalian begitu angkuh terhadap kami? Padahal kami tidak pernah menendang atau membalas semua perbuatan kalian.


Sekarang, aku mau menyebrang. Ini bertaruh antara hidup dan mati. Begitu banyak benda yang mirip dengan pembunuh temanku. Jika aku tidak selamat dalam penyebrangan ini, aku hanya bisa berharap anak-anak dan cucu-cucuku mendapat perlakuan yang layak dari kalian. Biar aku saja yang menerima perlakuan malang ini. Tolong jaga dan kasihi keturunanku ya manusia. Semoga dengan surat ini kalian tahu seberapa besar penderitaan kami.


Selamat tinggal dan terimakasih karena sudah membaca suratku.


Yang menjijikan,
Kucing.